PENANGANAN DEEP VEIN THROMBOSIS DENGAN RICE DAN STREATCHING


Reva Marsanda Vista (Akademi Fisioterapi YAB Yogyakarta)

(Sumber : https://www.vectorstock.com/royalty-free-vector/deep-vein-thrombosis-or-blood-clots-embolus-vector-37229206)

                         I. Pendahuluan

Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah bekuan darah yang terbentuk di dalam vena dalam, biasanya di tungkai, namun dapat juga terjadi di lengan, vena mesenterika, dan serebral. DVT atau Trombosis vena dalam (TVD) merupakan bagian dari tromboemboli vena (TEV) yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas yang dapat dicegah di seluruh dunia. Insidensi TEV diperkirakan 1 per 1.000 orang setiap tahunnya.

Prevalensi kasus  DVT pasca-operasi terdeteksi pada enam pasien (5,4%) dan semuanya kecuali satu memiliki keganasan. Dengan demikian, prevalensi DVT pada kasus keganasan adalah lima dari 44 pasien (11,4%). Faktor risiko independen untuk DVT pasca-operasi adalah usia  >  60 tahun dan menerima transfusi darah perioperatif. Lima dari enam pasien DVT menerima heparin berat molekul rendah untuk pengobatan DVT dan tidak ada yang mengalami PE. Sisanya dari peserta melaporkan tidak ada DVT terkait gejala dari wawancara 30 hari setelah operasi. baru-baru ini melaporkan insidensi DVT pada pasien Tiongkok yang menjalani operasi ginekologi adalah 9,20% dan Sermsathanasawadi et al. mempelajari prevalensi DVT asimtomatik perioperatif pada pasien kanker ginekologi Thailand dengan prevalensi 7%. Prevalensi DVT yang tinggi di negara Barat mendukung manfaat pengobatan DVT profilaksis dalam banyak pedoman tetapi tidak populer di sebagian besar dokter Asia termasuk Thailand karena masalah perdarahan.

Modalitas fisioterapi pada kasus DVT dapat menggunakan metode RICE yang dikombinasikan dengan latihan stretching efektif untuk responden dengan deep vein thrombosis.

                       II. Pembahasan

DVT merupakan bagian dari gangguan tromboemboli vena, dan merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak akibat penyakit kardiovaskular setelah serangan jantung dan stroke. (Waheed at all., 2023). Sedangkan menurut (Krabbe, 2015) DVT adalah pembentukan bekuan darah pada vena dalam di bawah kulit yang sering kali terjadi pada bagian tungkai bawah dan paha, namun beberapa terjadi pada panggul dan lengan. Penyebab trombus atau bekuan darah diantaranya yaitu aliran darah yang lambat, cedera pada lapisan vena, atau memiliki darah dengan kecenderungan yang meningkat untuk menggumpal.

A.  Tanda dan Gejala

Tanda klinis yang biasa muncul pada responden dengan DVT adalah nyeri dan bengkak, seringkali tidak spesifik atau tidak ada. Namun, jika tidak diobati trombus dapat menjadi terfragmentasi dan bermigrasi untuk menghalangi suplai arteri ke paru-paru menyebabkan PE yang berpotensi mengancam jiwa (Quinn, 2017).

Gejala paling umum terjadi di lokasi bekuan darah, diantaranya adalah pembengkakan, kulit terasa hangat, nyeri dan kemerahan pada kulit. Sebagian besar trombus kecil di ekstremitas bawah cenderung hilang secara spontan setelah operasi, pada sekitar 15% kasus, trombus ini dapat meluas ke sistem vena femoralis proksimal kaki. Trombus proksimal yang tidak diobati merupakan sumber signifikan dari emboli paru yang signifikan secara klinis. Dengan adanya kontraksi ritmik dari otot-otot kaki, seperti saat berjalan atau bergerak, aliran darah pembuluh darah melambat dan bahkan berhenti di beberapa area, menyebabkan responden mengalami trombosis (Krabbe, 2015).

B.   Faktor Resiko

Tromboemboli yang disebabkan dapat dikaitkan dengan faktor risiko yang diketahui, yang sebagian besarnya terbatas dalam jangka waktu tertentu, sedangkan yang tidak disebabkan dapat mengindikasikan kecenderungan yang lebih besar untuk menggumpal. Sebagian besar DVT yang didiagnosis di unit gawat darurat tidak disebabkan dan memiliki risiko kekambuhan yang lebih tinggi dibandingkan yang disebabkan: 15% dibandingkan 5% selama 12 bulan berikutnya. Faktor risiko DVT secara umum dapat diklasifikasikan sebagai bawaan atau didapat, dan hingga 80% pasien yang mengalami DVT memiliki setidaknya satu dan seringkali beberapa faktor risiko yang dapat diidentifikasi. Faktor resiko utama untuk trombosis selain usia yaitu meliputi faktor eksogen seperti pembedahan, rawat inap, imobilitas, trauma, kehamilan dan nifas serta perubahan hormon dan faktor endogen seperti kanker, obesitas dan genetik serta gangguan hiperkoagulasi yang dimiliki (Kesieme & Kesieme, 2011).

C.  Penanganan Fisiterapi

Secara umum peran fisioterapi untuk kasus DVT diantaranya adalah melancarkan alirah dan sirkulasi darah. kegiatan yang disarankan seperti menggunakan kaos kaki di bawah lutut, massage therapy, latihan aerobik (jalan kaki, berlari dan hiking), berbagai gerakan latihan (foot pumps, Ankle circles). Rekomendasi manajemen fisioterapi yang dapat dilakukan untuk kasus DVT diantaranya compression therapy,intermittent pneumatic compression device, massage therapy, range of motion exercise (foot pumps, ankle circles, leg raise, shoulder rolls), strengthening exercise, stretching exercise, aerobic exercise. Pada beberapa kasus DVT responden akan mengalami pembengkakan dan kemerahan pada kulit di bagian yang sakit.

Metode RICE (Rest, ice, compression, elevation) adalah teknik perawatan diri sederhana yang membantu mengurangi pembengkakan, mengurangi rasa sakit dan mempercepat penyembuhan. Manajemen fisioterapi yang diberikan berupa cryotherapy dengan menggunakan metode RICE (Harvey et al., 2002).. Metode tersebut digunakan untuk menangani cedera akut, khususnya cedera jaringan lunak dan dilakukan secepat mungkin sesaat setelah terjadinya cedera. Metode RICE dalam penanganan DVT bertujuan untuk mengurangi pembengkakan dengan memberikan efek penyempitan pada pembuluh darah, mengurangi nyeri dengan cara menimbulkan efek sedatif dingin dan selanjutnya mengurangi spasme otot. Pemberian RICE sesegera mungkin setelah cedera selama 15-20 menit secara berkala (Bekerom et al., 2012). Metode RICE dikombinasikan dengan stretching untuk memelihara dan mengembangkan fleksibilitas atau kelenturan.

Latihan peregangan otot juga dapat memperbaiki postur dan mengurangi rasa sakit. Tujuan stretching adalah membantu meningkatkan oksigenasi atau proses pertukaran oksigen (Hotta et al., 2018). Latihan yang diberikan meliputi ankle pump dengan posisi tertentang, bagian kaki diposisikan lebih tinggi dari jantung sekitar sudut 450 , responden diintruksikan untuk melakukan gerakan plantar fleksi dan dorso fleksi semampu responden, dilakukan setiap hari selama kurang lebih 10 menit. Selanjutnya dilakukan heel raise dengan posisi responden terlentang, instruksikan responden untuk menggerakan ankle ke arah dorso dan fleksi kemudian beri tahanan tiap masing-masing gerakan selama 5-8 detik, ulangi dengan 2 set 8 repetisi. Static stretching dengan posisi responden berdiri tegak didepan dinding, condongkan tubuh ke dinding dengan posisi kedua telapak tangan menempel ke dinding, dengan posisi fleksi elbow. Bagian tumit menempel pada lantai dan lurus, minta untuk mempertahankan posisi tersebut, tahan 10-15 detik, ulang 2 set 8 repetisi. Kemudian terakhir yaitu passive stretching yang lakukan beberapa stretching untuk bagian otot tungkai bawah, tahan 10-15 detik dengan pengulangan 5 repetisi (Hotta et al., 2018)

                    III. PENUTUP

Prevalensi DVT pascaoperasi pada pasien ginekologi adalah 5%, dan faktor risiko independennya adalah pasien lanjut usia dan menerima transfusi darah perioperatif. Dengan menggunakan metode RICE yang dikombinasikan dengan stretching sebanyak 4 kali selama 2 minggu mampu mengurangi nyeri dan pembengkakan pada betis kanan, meningkatkan lingkup gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot pada regio knee dan ankle joint. Penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi serta kekuatan otot yang dihasilkan mampu mempengaruhi aktivitas fungsional dan sosial responden, terutama pada aktivitas berjalan.

DAFTAR PUSTAKA

Savitri, Yusfica Adelia, and Nikmatur Rosidah. "Manajemen Fisioterapi pada Deep Vein Thrombosis (DVT) untuk Mengurangi Nyeri dan Meningkatkan Kekuatan Otot: Studi Kasus." Physiotherapy Health Science (PhysioHS) 4.2 (2022): 96-104.

Dasar, A. Konsep. "5PERIKARDITIS." MENGENAL JENIS-JENIS PENYAKIT JANTUNG JILID 50.2: 99.

Spencer FA, Emery C, Lessard D, Anderson F, Emani S, Aragam J, Becker RC, Goldberg RJ. Studi Tromboemboli Vena Worcester: studi berbasis populasi mengenai epidemiologi klinis tromboemboli vena. J Gen Intern Med. 2006 Jul; 21 (7):722-7.

Segon YS, Summey RD, Slawski B, Kaatz S. Profilaksis tromboemboli vena bedah: pembaruan praktik klinis. Hosp Pract (1995). 2020;48(5):248–257.

Mugeni R, Nkusi E, Rutaganda E, Musafiri S, Masaisa F, Lewis KL, dkk. Trombosis vena dalam proksimal di antara pasien medis dan obstetrik yang dirawat di rumah sakit pendidikan universitas Rwanda: prevalensi dan faktor risiko terkait: studi cross-sectional. BMJ Open. 2019;9(11):e032604. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2019-032604 .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI FISIOTERAPIS TANPA HARUS LULUS PENDIDIKAN FISIOTERAPI?

SERTIFIKASI LINTAS PROFESI

OKNUM FISIOTERAPIS OLAHRAGA ABAL-ABAL : MENGENCAM PERFORMA ATLET DAN PROFESI FISIOTERAPI INDONESIA