KASUS VENTRICULAR SEPTAL DEFECT (VSD)

 

Rista Arum Amalia (Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

(sumber: https://drraghu.com/wp-content/uploads/2021/02/Ventricular-Septal-defect.jpg)

 

I.               PENDAHULUAN

       Ventikel septal defek merupakan kelainan jantung kongenital yang paling banyak ditemukan, sekitar 1,5 sampai 2,5 dari 1000 wanita hamil yang melahirkan. VSD yang tidak disertai dengan defek jantung yang lain biasanya masih bisa ditoleransi selama kehamilan, tetapi masih mungkin berhubungan dengan kejadian aritmia dan gagal jantung kongestif. VSD dapat terjadi akibat gangguan pembentukan septum interventrikularis saat morfogenesis jantung embrionik. VSD dapat muncul bersamaan dengan kelainan jantung lain, seperti atrial septal defect (ASD), patent ductus arteriosus (PDA), stenosis pulmonal, koarktasio aorta, stenosis subaorta, dan sering kali juga menjadi bagian dari sebuah sindrom, seperti tetralogy of Fallot (ToF) dan transposition of great arteries (TGA). Namun, VSD juga dapat muncul sebagai kelainan bawaan tunggal yang terisolasi.

        VSD merupakan penyakit jantung bawaan (PJB) dengan prevalens tersering dengan gejala klinis bervariasi tergantung ukuran defect. Penderita VSD rentan terjadi gangguan pertumbuhan. Saat ini sebagian besar penderita VSD dapat dikoreksi dengan Tindakan kateterisasi jantung dengan memasang suatu alat (device) untuk menutup defek anatomi yang ada, sehingga diharapkan dapat memperbaiki fungsi jantung penderita.

       Ventricular Septal Defect (VSD) merupakan kelainan yang paling sering ditemukan, dan mencakup 30 % dari semua PJB.8,9 Klasifikasi VSD menurut lokasi defek yaitu: VSD perimembran,           VSD muskular, dan VSD subarterial. Menurut ukurannya, VSD diklasifikasikan menjadi VSD kecil (luas defek 1/2 diameter aorta atau >10 mm2 /m2 luas permukaan tubuh). VSD lebih sering ditemukan pada perempuan (56%).10-12 Manifestasi klinis VSD sangat tergantung pada ukuran defek. Defek kecil biasanya asimtomatik, sedangkan defek sedang dan besar dapat menunjukkan gejala gagal jantung kongestif dengan sesak, berkeringat, gagal tumbuh, serta gejala-gejala infeksi saluran pernafasan.

       VSD mencakup sekitar 37% dari seluruh penyakit jantung bawaan pada anak-anak.1 Angka insiden VSD pada bayi baru lahir adalah sekitar 0,3%.1 Karena sekitar 90% kasus VSD menutup dengan sendirinya, insiden VSD pada orang dewasa lebih rendah; tidak terdapat kecenderungan laki-laki atau perempuan yang lebih banyak memiliki VSD.

II.             PEMBAHASAN

       Ventricular Septal Defect (VSD) atau defek septum ventrikel adalah defek yang terjadi pada septum ventricularis, dinding yang memisahkan ventriculus dextra dengan sinistra. Defek ini muncul secara kongenital akibat septum interventriculare tidak menutup dengan sempurna selama perkembangan janin. Defek ini menyebabkan aliran darah dari ventriculus sinistra akan masuk kedalam ventriculus dextra (Daniels et al., 2019).

       Ventricular Septal Defect (VSD) merupakan gangguan atau lubang pada septum atau sekat diantara rongga vertikel akibat kegagalan fusi atau penyambungan sekat interventrikuler. Kelainan ini sering terjadi pada bayi hingga anak-anak, dan dapat terjadi secara kongenital dan traumatic (Penny & Vick, 2019).

       Septum interventrikular terdiri atas bagian membranosa dan muskularis. Gangguan perkembangan atau fusi salah satu bagian septum selama morfogenesis jantung embrionik akan mengakibatkan defek atau lubang yang pada akhirnya menyebabkan VSD.

Berdasarkan lokasi anatomis defek, VSD diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:

1.     tipe 1 (infundibular/outlet) Kelainan VSD tipe 1 (outlet) terletak di bawah katup semilunar (aorta dan pulmonalis) tepatnya pada bagian septum outlet ventrikel kanan di atas krista supraventrikularis.

2.     tipe 2 (membranous) VSD tipe 2 (membranous) terletak pada septum membranosa inferior krista supraventrikularis.

3.     tipe 3 (inlet/kanalis atrioventrikularis) Kelainan VSD tipe 3 terletak di inferior dari inlet katup trikuspid dan mitral, tepatnya di dalam inlet bagian septum ventrikel kanan.

4.     tipe 4 (muskularis) Kelainan VSD tipe 4 terletak pada septum muskularis di area apikal, sentral, atau bagian outlet dari septum interventrikular dan dibatasi oleh otot jantung.

Defek pada VSD juga dapat diklasifikasikan berdasarkan rasio antara aliran darah ke sirkulasi paru (Qp) dan sirkulasi sistemik (Qs). Berdasarkan klasifikasi tersebut, VSD dikelompokkan menjadi VSD kecil atau restriktif apabila Qp/Qs 2,5 yang menyebabkan bertambahnya hemodinamik cukup bermakna pada ventrikel kiri. VSD dengan defek kecil bersifat asimtomatik dan tumbuh kembang anak juga akan berjalan baik. Sekitar 40%-60% kasus VSD dengan defek kecil dapat menutup spontan. Namun, pada VSD dengan defek besar akan timbul gejala kongesti, seperti mudah lelah saat menyusu, gagal paru, infeksi paru, takikardia, hepatomegali, dan sebagainya; makin besar pirau, gejala akan makin sering ditemui.

Gejala VSD banyak ditemukan pada saat usia muda. Bising jantung menjadi salah satu temuan penting. Bising jantung akan terdengar paling keras saat jantung berkontraksi atau saat fase sistolik. Adanya pirau kiri ke kanan menyebabkan aliran darah sirkulasi pulmonal akan berlebih, meningkatkan beban hemodinamik. Cairan yang berlebih juga dapat mepengaruhi kerja ventrikel kiri.

       Keluhan utama paling sering pada pasien penyakit jantung bawaan adalah sesak napas, terutama saat aktivitas yang butuh energi lebih, misalnya menyusu. Perlu juga ditanyakan apakah sesak napas pasien disertai biru pada bagian-bagian tubuh tertentu atau tidak.

Pada sebagian besar kasus, penyebab dari Ventricular Septal Defect (VSD) belum diketahui dengan pasti, akan tetapi ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan Ventricular Septal Defect (VSD) yaitu :

A. Faktor Prenatal

1)    Ibu menderita penyakit infeksi.

2)    Ibu alkoholisme.

3)    Umur ibu lebih dari 40 tahun.

4)    Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin. 

B. Faktor Genetik Hal yang penting kita perhatikan adalah adanya riwayat    keluarga yang menderita penyakit jantung, seperti:

1)    Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.

2)    Ayah atau Ibu menderita penyakit jantung bawaan.

3)    Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. Hal lain yang juga berhubungan adalah adanya kenyataan bahwa sekitar 10% penderita penyakit jantung bawaan mempunyai penyimpangan pada kromosom, misalnya pada Sindroma Down.

C. Faktor Lingkungan Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

1)  Paparan lingkungan yang tidak baik, misalnya menghirup asap rokok.

2)  Rubella, infeksi virus ini pada kehamilan trimester pertama, akan menyebabkan penyakit jantung bawaan.

3)  Diabetes, bayi yang dilahirkan dari seorang ibu yang menderita diabetes tidak terkontrol mempunyai risiko sekitar 3-5% untuk mengalami penyakit jantung bawaan.

4)  Alkohol, seorang ibu yang alkoholik mempunyai insiden sekitar 25-30% untuk mendapatkan bayi dengan penyakit jantung bawaan.

5)  Ekstasi dan obat-obat lain, seperti diazepam, corticosteroid, phenothiazin, dan kokain akan meningkatkan insiden penyakit jantung bawaan.

Menurut Putri et al. (2019) dalam menentukan diagnosis Ventricular Septal Defect (VSD), maka diadakan pemeriksaan diagnostic seperti:

a. Elektrokardiografi (EKG)

Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang bersifat membantu dan melengkapi pemeriksaan klinis dalam mendiagnosis Ventricular Septal Defect (VSD) tidak mempunyai gambaran yang khas untuk masing-masing jenis Ventricular Septal Defect (VSD) tertentu. EKG harus dilakukan pada setiap penderita Ventricular Septal Defect (VSD). EKG dapat berguna membantu menegakan diagnosis Ventricular Septal Defect (VSD) dalam menentukan pembesaran ruang jantung, gangguan irama jantung, gangguan metabolik dan elektrolit, serta penderita Ventricular Septal Defect (VSD) yang mendapat pengobatan sebelum tindakan pembedahan (efek obat terhadap sistem kardiovaskuler).

b. Ekokardiografi

Ekokardiografi merupakan salah satu pemeriksaan yang mempunyai peran sangat penting dalam diagnosis Ventricular Septal Defect (VSD). Keuntungan yang dapat diperoleh dari pemeriksaan ini adalah dapat menegakan diagnosis kelainan struktural jantung dan pembuluh darah, menilai derajat kelainan, menilai fungsi jantung baik sistolik maupun diastolik, mengevaluasi penderita pra-bedah maupun pasca-bedah jantung dan mengevaluasi hasil terapi medikamentosa yang diberikan pada pasien Ventricular Septal Defect (VSD).

c.  Katerisasi jantung

Katerisasi jantung merupakan pemeriksaan yang penting dalam mendiagnosis Venticular Septal Defect (VSD), terutama pada Ventricular Septal Defect (VSD) kompleks. Pemeriksaan ini bersifat invasif yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan data objektif secara pasti tentang perubahan anatomis dan fisioligis akibat berbagai kelainan pada jantung dan pembuluh darah

III.           PENUTUP

Ventricular Septal Defect (VSD) adalah kelainan jantung bawaan yang membutuhkan perawatan medis yang tepat. Fisioterapi dapat menjadi bagian integral dari perawatan anak-anak dengan VSD dan keluarga mereka. Melalui fisioterapi, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kemampuan fungsional, dan mencapai tingkat kemandirian yang lebih tinggi. Selain itu, fisioterapi juga memberikan dukungan dan pendidikan kepada orang tua, membantu mereka menghadapi tantangan yang terkait dengan kondisi anak mereka. Dalam menjalani proses fisioterapi, kerjasama antara fisioterapis, anak-anak dengan VSD, dan orang tua mereka sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal.

IV.           REFERENSI

Putra, N. A. R. S. N., Suciawan, N., & Arjawa, I. B. K. (2024). Ventricular Septal Defect And Maternal History Of Epilepsy: A Case Report. Journal of Agromedicine and Medical Sciences10(1), 1-4.

Sulistyanti, D., & Uyun, Y. (2021). Anestesi untuk Seksio Sesarea pada Pasien dengan Ventrikel Septal Defek. Jurnal Anestesi Obstetri Indonesia4(1), 48-54.

Wangko, L. C., & Kaunang, E. D. (2012). SEPSIS NEONATAL PADA KASUS DEFEK SEPTUM VENTRIKEL. Jurnal Biomedik: JBM4(3).

PALPIALY, C. D., & PATADI, C. M. (2023). ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN VENTRICULAR SEPTAL DEFECT (VSD) DI INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR (Doctoral dissertation, STIK Stella Maris).

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI FISIOTERAPIS TANPA HARUS LULUS PENDIDIKAN FISIOTERAPI?

SERTIFIKASI LINTAS PROFESI

OKNUM FISIOTERAPIS OLAHRAGA ABAL-ABAL : MENGENCAM PERFORMA ATLET DAN PROFESI FISIOTERAPI INDONESIA