REHABILITASI CEDERA ACL : DENGAN MODALITAS HYDROTHERAPY PADA TEKNIK AQUATIC THERAPY

 Oleh : Syabila Nadya Ardana
Universitas Muhammadiyah Karanganyar Solo


ABSTRAK
Cedera anteriror cruciate ligament (ACL) merupakan cedera yang paling sering kita jumpai dalam cabang olahraga di mana cedera ini diakibatkan kontak langsung ataupun non-kontak. Frekuensi terjadinya ACL lebih tinggi dialami oleh seorang wanita dibandingkan laki-laki, hal ini disebabkan seorang laki-laki mempunyai struktur anatomi, biomekanik, neuromuscular lebih kuat dibandingkan seorang wanita. Klasifikasi penentuan derajat pada cedera ACL bertujuan untuk menentukan terapi yang dibutuhkan dalam proses penyembuahan ACL baik menggunakan metode operatif atataupun non-operatif. Serta progam penyembuhan dengan hydrotherapy dengan teknik aquatic therapy berpengaruh besar terhadap penyembuhan cedera ACL hal ini karna air mempunyai manfaat karena tekanan dalam air merupakan tekanan alami dari tubuh.

Kata kunci : ACL, Cedera, Olahraga, Hydrotherapy, Aquatic Therapy


PENDAHULUAN
Olarahraga merupakan kebutuhan manusia dalam upaya meningkatkan kesejahteraan fisik (kemampuan fungsi ekstermitas tubuh dan fungsi cardiovasculer), kesejahteraan sosial, dan psikologis atau mental pada diri manusia. Tujuan dari olahraga tidak hanya berfokus pada peningkatan saja, namun olahraga dapat juga dapat menurunkan angka terjadinya penyakit infeksi dan penyakit degeneratif (penyakit non-infeksi) yang meningkat. Di dalam aktivitas olahraga tidak terlepas dari kata “cedera” yang mana mobilitas dan elastisitas kekuatan otot atau sendi atau jaringan lainnya tidak dapat menopang beban dengan stabil dikarenakan fleksibilitas yang buruk, sehingga ketidakstabilan tersebut mengakibatkan cedera pada fungsi ekstremitas tubuh yang mana di dalam olahraga selalu melibatkan fungsi ekstremitas atas dan bawah guna untuk melakukan perpindahan dan gerakan-gerakan olahraga.

Di dalam olahraga terdapat 2 jenis pembagian cedera yaitu cedera akut (trauma acute) dan cedera kronis (overuse syndrome). Cedera akut (trauma acute) merupakan cedera yang sering terjadi karena suatu beban berlebihan atau tenaga yang dikeluarkan melebihi kapasitas kekuatan tubuh dan bisa juga berasal dari benturan yang keras dengan lawan atau pukulan dari alat olahraga yang digunakan. Dampak dari cedera akut ini yaitu goresan pada kulit, robekan pada ligament, dan patah tulang saat terjatuh. Sedangkan syndrome merupakan cedera yang diakibatkan dari suatu kekuatan yang berlebihan dan berlangsung secara terus menerus dalam jangka yang lama.

Sementara itu lutut merupakan bagian dari ekstremitas tubuh yang sering mengalami cidera karena lutut memiliki fungsi sebagai tempat untuk menempatkan keseluruhan beban tubuh, sehingga hal ini sering mengakibatkan seorang atlet mengalami cidera pada lutut saat olahraga. Kasus cedera yang paling sering dialami oleh seorang atlet adalah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) di mana hal ini ditandai dengan adanya robekan ligament pada tulang lutut yang disebabkan karena perpindahan gerak yang mengalami perubahan secara cepat atau mendadak.

Bagian ligament pada lutut mempunyai fungsi sebagai stabilitasi pasif sendi lutut. Sedangkan pada sendi lutut terdiri dari cruciate ligament, collateral ligament, dan patellar ligament. Struktur pada cruciate ligament terdiri dari anteriror cruciate ligament (ACL) dan posterior cruciate ligament (PCL), sedangkan pada collateral ligament terdiri dari medial collateral ligament (MCL) dan lateral collateral ligament (LCL), dan patellar ligament terdiri dari oblique popliteal ligament dan transverse ligament. Pada anterior cruciate ligament (ACL) memiliki fungsi untuk stabilitas pasif sendi lutut guna mencegah terjadinya dislokasi patella frontal berlebihan dari tulang tibia menuju tulang femur yang stabil, atau mencegah pergeseran dorsal yang berlebihan pada tulang femur ke tulang tibia yang stabil.

Apabila seorang atlet mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) dengan total robekan lebih dari 50% maka akan berdampak pada ketidakstabilan sendi lutut yang bergoyang saat digunakan untuk melakukan aktivitas. Jika hal ini terus berkelanjutan maka akan menyebabkan timbulnya cedera lain berupa rusaknya bantalan sendi atau meniskus dan tulang rawan sendi. Menurut etiologi cedera ACL terbagi menjadi 2 mekanisme yaitu :
  1. Cedera kontak langsung. Di mana cedera ini terjadi secara langsung dengan adanya hentakan pada lateral lutut, yang dapat memberikan gaya valgus pada lutut dan dapat menimbulkan cedera pada struktur lutut yang lain atau disebut sebagai triad O’Donoghue. Mekanisme dalam cedera ini terjadi apabila rotasi pada tibia berputas secara eksternal pada kaki yang menampak seperti saat bermain ski.
  2. Cedera tidak langsung. Mekanisme ini ditandai dengan adanya gerakan hiperekstensi lutut yang memiliki trauma berat dan gerakan eksternal rotasi lutut atau gerakan tulang tibia ke arah luar secara tiba-tiba.
Dalam proses penyembuhan cedera ACL terdapat dua metode yaitu metode operatif dan metode non-operatif. Penggunaan masing-masing metode disesuaikan dengan derajat robekan ligament cruciate anterior (ACL), pemilihan metode operatif sering menjadi alasan utama bagi seorang atlet dengan harapan agar dapat segera pulih dengan waktu yang lebih cepat dan dapat melakukan pertandingan seperti semula dengan berkembangnya zaman sekarang banyak teknologi yang memudahkan untuk rekonstruksi cedera ACL dengan cepat dan tepat. Akan tetapi masih banyak juga dari kita yang belum paham dan sadar mengenai dampak cedera ACL apabila dibiarkan begitu saja dan tanpa penanganan serta pendampingan dari ahli yang profesional sehingga dapat mengakibatkan Osteoarthitis yang diakibatkan dari penundaan rekonstruksi pada cedera ACL dengan robekan ligament yang sudah sangat parah dan kerusakan jaringan yang lain. Pada ligament ACL ini tidak memiliki fibrin yang dapat menyembuhkan pemulihan ketika mengalami robekan dan proses rekontruksi ACL umumnya menggunakan bahan alami yang diambil dari tendon hamstring atau tendon patella pada pasien itu sendiri (cangkok otomatis).

Bukan hanya metode operatif saja yang menjadi pilihan dalam proses penyembuhan cedera ACL, penggunaan metode non-operatif juga dibutuhkan pada proses penyembuhan cedera ACL ketika mengalami derajat cedera ACL yang tidak terlalu parah dan metode non-operatif ini selalu dibutuhkan baik setelah melalukan metode operatif sekali pun. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi dan melatih proprioception pasca cedera ACL pada lutut, setidaknya seorang atlet dapat melakukan aktivitas seperti semula sebelum mengalami cedera ACL. Pada pembahasan kali ini berfokus pada penggunaan metode non-operatif dengan modalitas hydrotherapy teknik aquatic therapy yang mana jarang kita dapati di lingkungan sekitar tentang metode ini, karena banyak dari kita memilih rehabilitasi konvesional saja. Hal ini sangat disayangkan karena hydrotherapy merupakan metode dengan modalitas yang aman yaitu dengan air dan komprehensif jika dibandingkan metode konvensional lainnya, yang mana latihan dengan air memberikan manfaat yang signifikan dibandingkan berjalan biasa pada kasus cedera ACL.


PEMBAHASAN
Lutut merupakan ekstermitas bawah dengan sendi yang sangat kompleks sehingga berpotensi sering terjadi cedera jadi bukan hal asing lagi jika kebanyakan seorang atlet sering mengalami cedera pada lututnya. Di dalam lutut sendiri terdapat sendi-sendi yang dilaksanakan oleh ligament dengan fungsi sebagai pergerakan sendi dan mengikat satu tulang dengan tulang lainnya serta menahan-nya agar tetap pada tempatnya. Salah satu sendi terkuat pada lutut adalah cruciate ligament, karena sendi ini merupakan penjaga inti dari stabilitas lutut guna mencegah translasi tulang tibia (tulang kering) kearah anterior atau mencegah tulang femur (paha) translasi kearah posterior.

Seorang atlet olahraga sering mengalami cedera yang terjadi pada ligament lutut atau yang biasa disebut dengan cedera anterior cruciate ligament (ACL) yang mana diakibatkan karena melakukan gerakan berlebih saat melompat, menendang, berputar, atau terkena benturan yang kencang. Cedera ACL dapat terjadi pada semua cabang olahraga dan risiko terjadinya cedera ACL ini lebih tinggi dialami oleh seorang atlet wanita karena faktor yang kompleks antara lain : faktor anatomi, biomekanik, neuromuskular, lingkungan.

Struktur pada anterior cruciate ligament (ACL) bekerja sama dengan otot otot di sekitarnya dan posisi ACL ini saling menyilang satu dengan lainnya sehingga tidak menutupi kapsul sendi lutut dengan pelekatannya di bagian anterior dan posterior di tibia. Apabila ligament ini mengalami cedera atau robekan maka akan mengganggu fungsi gerak pada lutut serta penurunan fungsi pasca cedera.


Seorang atlet yang mengalami cedera ACL akan merasakan perubahan kinematik pada lututnya dengan adanya bunyi letupan “pop” pada lutut, serta nyeri lutut yang tajam bagian anterior pada garis sendi lateroposterior. Sehingga untuk mengetahui seberapa parah kerusakan robekan ligament pada cedera ACL dilakukan penilaian sebagai berikut :
  • Derajat 1 : Umumnya pada derajat ini tidak menimbulkan gejala parah dan seorang atlet dapat kembali bermain setelah proses pemulihan atau yang biasa disebut dengan robekan mikro.
  • Derajat 2 : Pada derajat ini mengakibatkan penurunan fungsi dan gejala ketidakstabilan karena robekan dengan pendarahan.
  • Derajat 3 : Merupakan derajat dengan robekan total dan ketidakstabilan yang sangat parah. Tatalaksana pada derajat ini dapat dilakukan dengan terapi non-operatif dan operatif. 

Dalam penanganan kasus cedera ACL dibagi menjadi dua metode yaitu metode operatif dan metode non-operatif, penggunaan metode ini disesuaikan dengan derajat seseorang yang mengalami cedera ACL. Pada pembahasan kali ini berfokus menggunakan metode non-operatif dengan modalitas hydrotherapy teknik aquatic therapy yang mana pada latihan fisik dengan media air ini menciptakan daya tahan alami yang berfungsi sebagai latihan kekuatan yang bertumpu pada kemampuan gerak tubuh kita sendiri. Pada praktek hydrotherapy dengan teknik aquatic therapy tetap membutuhkan pendampingan dari layanan kesehatan, yaitu fisioterapi karena seorang fisioterapis mempunyai tugas untuk membantu proses rehabilitasi dan pemulihan fungsi gerak tubuh atau motorik pasca cedera. Seorang fisioterapis berhak memberikan teknik terapi dan modalitas apa saja yang dibutuhkan pasien ketika membutuhkan layanannya.

Pada gerakan rehabilitasi pada ACL dibagi menjadi 3 fase, yaitu a) fase 1 ketika keadaan masih baru saja cedera, masih bengkak dan sulit sekali untuk digerakan, b) fase 2 rasa sakit sudah minimal dan aktivitas sehari hari sudah dapat dilakukan dengan baik namun belum sepenuhnya pulih kembali, c) fase 3 dimana semua sudah kembali dengan baik dan ingin kembali bermain pada olahraga.

Ada pun bentuk gerakan latihan aquatic therapy sebagai berikut :
  • Fase 1 : pada fase ini bertujuan agar dapat meluruskan kaki sepenuhnya dan memperkuat otot hamstring. Contoh gerakan pada fase ini antara lain walking exerase dengan pemberat/tanpa pemberat; flutter kick progression dengan gerakan knee extension dan ankle plantar flexion; single leg balance progression yaitu tahan keseimbangan, squats progression keadaan tubuh 50%masuk kedalam air, dan knee extensions dengan pemberat/tanpa pemberat.



  • Fase 2 : pada fase ini bertujuan agar kaki dapat berjalan normal; memperkuat otot quadriceps lutut dapat lurus sempurna tanpa kesulitan dan dapat menekuk lutut (fleksi). Contoh gerakan pada fase ini antara lain skipping dan jumping underwater dengan lateral walking dan backwards walking; line hop progression dengan melakukan functional movement activites; jogging underwater, running underwater, core rotations progression, dan lateral hops.
  • Fase 3 : tujuan fase ini untuk mempertahankan dan terus meningkatkan kemapuan proprioception guna memiliki keseimbangan yang baik pada kakinya seperti sebelum cedera. Contoh gerakan pada fase antara lain single leg hop stabilization exercise, lateral hop stabilization, single leg bounding, advanced core rotations progression, tuck jumps, dan jump with pivot.


KESIMPULAN
Cedera pada ekstermitas bawah yaitu pada lutut merupakan cedera yang sering dialami seorang atlet yang mana cedera ini biasanya disebut dengan cedera anterior cruciate ligament (ACL). Cedera ini terjadi pada cruciate ligament dengan keadaan ligament yang mengalami robekan atau bahkan putus total, Sehingga mengaruskan perawatan yang optimal pada kasus cedera ini. Pemilihan metode pada recovery atau rehabilitasi cedera ACL ini sangat berpengaruh dengan hasil kesembuhan cedera ACL pada pembahasan ini memilih metode non-operatif dengan teknik aquatic therapy yang mana penggunaan air dalam proses rehabilitasi ini memiliki banyak manfaat. Proses pemulihan cedera ACL dengan metode aquatic therapy atau pun tidak, tetap memerlukan tenaga kesehatan fisioterapi guna untuk membantu mengembalikan fungsi gerak pada bagian yang mengalami cedera.

Pembagian rehabilitasi pada cedera ACL dibangi menjadi 3 fase yang mana disetiap fase tersebut mempunyai titik fokus tersendiri untuk melatih dan memulihkan bagian lutut yang terkena cedera ACL dengan proses tersendiri guna mengoptimalkan proses rehabilitasi tersebut.

  • Fase 1 : early stage, pada fase ini dilakukan pada waktu 0-4 minggu dalam keadaan cedera masih sangat sakit; tujuan utama dalam fase ini untuk meminimalisir bengkak, nyeri dan mengusahakan agar ekstensi lutut maksimal dengan dilakukan latihan penguatan pada otot hamstring.
  • Fase 2 : middle stage, fase ini dilakukan dibutuhkan waktu 1-6 minggu latihan agar kaki dapat berjalan dengan normal dan melalakukan ekstensi dengan lurus tanpa merasakan kesakitan.
  • Fase 3 : lateral stage, fase ini belum bisa dianggap sebagai akhir dari semua latihan karena pada fase ini kita tetap diharuskan untuk menjaga proprioception pada lutut karena pada cedera ini mempengaruhi keseimbangan kakinya serta pada fase ini tetap diberikan latihan-latihan penunjang lainnya.



REFERENSI
Alghannam, A. F. (2011). Prevention of ACL Injuries in Football. The Saudi Journal of Sports Medicine, 12(1), 1–6.

Banovetz, M. T., Familiari, F., Kennedy, N. I., Russo, R., Palco, M., Simonetta, R., DePhillipo, N. N., & LaPrade, R. F. (2023). Anatomy of the anterior cruciate ligament and the common autograft specimens for anterior cruciate ligament reconstruction. Annals of Joint, 8, 0–2. https://doi.org/10.21037/aoj-22-49

Cedera, A., Cruciate, A., Kunci, K., Ligament, A. C., Acl, C., Anterior, C., Ligament, C., Muda, A. B., & Zein, M. I. (n.d.). CEDERA ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT ( ACL ) PADA ATLET BERUSIA MUDA Oleh : Muhammad Ikhwan Zein. 111–121.

Cooper, R. (2018). ACL Rehabilitation Guide. Thermoskin, 28. 

Fulton, J., Wright, K., Kelly, M., Zebrosky, B., Zanis, M., Drvol, C., & Butler, R. (2014). Injury risk is altered by previous injury: a systematic review of the literature and presentation of causative neuromuscular factors. International journal of sports physical therapy, 9(5), 583–595.

Gusma, K. C. (2022). Survei Penyebab Terjadinya Cedera Anterior Cruciate Ligament (Acl) Pada Komunitas Acl Indonesia Cabang Jateng Diy. Unnes Journal of Sport Sciences, 6(2), 104–117.

Kiapour, A. M., & Murray, M. M. (2014). Basic science of anterior cruciate ligament injury and repair. Bone and Joint Research, 3(2), 20–31.

LaBella, C. R., Hennrikus, W., Hewett, T. E., Brenner, J. S., Brooks, A., Demorest, R. A., Halstead, M. E., Weiss Kelly, A. K., Koutures, C. G., LaBotz, M., Loud, K. J., Martin, S. S., Moffatt, K. A., Benjamin, H. J., Cappetta, C. T., McCambridge, T., Gregory, A. J. M., Kluchurosky, L. K., Philpot, J. F., … Alexander, S. N. (2014). Anterior cruciate ligament injuries: Diagnosis, treatment, and prevention. Pediatrics, 133(5).

Lowe, R. (2024). Anterior Cruciate Ligament (ACL). Physiopedia. https://www.physio-pedia.com/Anterior_Cruciate_Ligament_(ACL)

Manaf, A. (2020). Pengantar Fisioterapi (hal. 350).

Nur Iffani Khoirun Nisa, Wijianto Wijianto, & Halim Mardianto. (2024). Penatalaksanaan Terapi Latihan Pada Kasus Post Operasi ACL Sinistra Minggu Ke 2. Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, 4(1), 59 69. https://doi.org/10.55606/jikki.v4i1.2946

Our complete ACL rehabilitation exercise list (phases 1 through 4). (2024). Alliance (Physical Theraphy Partners). https://www.allianceptp.com/our complete-acl-rehabilitation-exercise-list-phases-1-through-4

Ramadan, M. I., Totok Budi Santoso, & Hakny Maulana. (2023). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Post Operation Anterior Cruciate Ligament Reconstruction: Case Report. Journal of Innovation Research and Knowledge, 3(1), 4801–4810.

Wijayasurya, S., & Setiadi, T. H. (2021). Cedera Ligamen Krusiatum Anterior. Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis, 1(1), 98. 1
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENJADI FISIOTERAPIS TANPA HARUS LULUS PENDIDIKAN FISIOTERAPI?

SERTIFIKASI LINTAS PROFESI

OKNUM FISIOTERAPIS OLAHRAGA ABAL-ABAL : MENGENCAM PERFORMA ATLET DAN PROFESI FISIOTERAPI INDONESIA