PERAN FISIOTERAPI PADA ATLET DENGAN CIDERA SHIN SPLINTS
Oleh :
Devina Widia Maharani
Politeknik
Kesehatan Kemenkes Surakarta
Fisioterapi merupkan bentuk pelayanan kesehatan yang
ditujukan kepada individu dan suatu kelompok untuk mengembangkan, memelihara,
dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan
menggunakan penangganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik,
elektrotrapeutis dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi. (Kemenkes No 1363/
Menkes/ SK/ XII/ 2001).
Fisioterapi memberikan pelayanan kesehatan dalam beberapa
bidang, salah satunya bidang olahraga. Peranan fisioterapi dalam bidang
olahraga memberikan penangganan disaat tahap persiapan atlet, pertandingan
maupun masa pemulihan jika terjadi cedera. Salah satu kasus cidera yang sering
terjadi pada atlet dan membutuhkan penanganan fisioterapi adalah Sphin
Splints.
Apa itu Shin Splints?
Sphin Splints adalah kondisi dimana terjadi ruptur atau sobekan
tertutup pada tendon tibialis anterior. Sphin Splints juga dapat dikenal
sebagai medial tibial stress syndrome yang disebabkan adanya kondisi umum
olahraga yang mempengaruhi area tungkai bawah atlet. Ini merupakan salah satu
cedera musculoskeletal yang paling umum terjadi.
Shin Splints terjadi pada area tungkai bawah atau bawah bagian
dalam tulang kering dengan timbulnya rasa nyeri kaki akibat olahrga yang dilakukan. Rasa sakit
mungkin terasa lembut saat disentuh atau bisa terasa nyeri saat melakukan
olahraga atau aktivitas lain. American Medical Asssociation
mendefinisikan shin splints sebagai rasa nyeri dan tidak nyaman akibat
aktivitas pada permukaan keras dan penggunaan fleksor kaki secara eksesif,
dimana dianosisnya harus dibatasi pada inflamasi musculoskeletal.
Shin Splints umumnya terjadi pada atlet khususnya atlet (lari,
gimnastik, dan pelari) dan militer. Poulasi shin splints pada atlet
lari sebanyak 13,6% hingga 20%. Spin splints ini juga dapat terjadi
pada populasi militer karena saat melakukan pelatihan dasar, tambahan beban
yang mereka pikul akan meningkatkan beban pada tungkai bawah.
Terdapat beberapa factor resiko terjadinya
shin
splints, berupa :
• Indeks
Massa Tubuh
• ROM
plantarfleksi angkle
• ROM
dorsifleksi angkle
• ROM
eversi angkle
• ROM
inversi angkle
• Pada
wanita
• Riwayat
shin splints
• Navicular
drop (terutama pada >10 mm)
Dalam menentukan diagnosis diperlukan adanya pemeriksaan,
sebagai berikut
1. Terdapat
nyeri di daerah sisi medial tibia
2. Terdapat
riwayat kram atau sensasi panas atau nyeri
3. Apakah
terdapat sensasi tertusuk pada kaki saat setelah maupun selama latihan
berlangsung
4. Apakah
terdapat pembengkakan sepanjang sisi medial dari tibia
5. Melakukan
palpasi posterior-medial tibia, lalu tanyakan apakah terdapat nyeri pada saat
ppalpasi
Pada kasus shin splints, fisioterapi berhak
memberikan terapi atau pun pengobatan yang ditujukan untuk pemulihan pasca
cedera yang terjadi pada atlet. Dengan pemberian intervesi, atlet diharapkan
dapat segera pulih dari cedera serta mampu melakukan aktivitas atlet seperti
biasa. Tak hanya itu, fisioterapi dapat memberikan intervensi atau latihan
untuk menguatkan kembali otot serta ROM yang sebelumnya sempat mengalami
imobilisasi dengan tujuan performa atlet dapat kembali seperti sediakala bahkan
dapat meningkat.
Pada pengobatan lini pertama berfokus pada pengurangan gejala dan koreksi penyebab biomekanik, otot, atau gaya berjalan.
Intervensi terapeutik
Intervensi utama dengan mengalihkan pasien ke kontak kaki tanpa beban. Hal ini ditujukan agar rasa nyeri atau sakit yang dirasakan dapat hilang terlebih dahulu. Kemudian dapat dilanjut dengan mulai berlari.
Selanjutnya, melakukan pengukuran nyeri diatas treadmill
untuk mengetahui adanya penurunan nyeri kaki posteromedial dengan metode lari
yang telah diberikan pada tiga hari pertama. Pada satu minggu pertama biasanya
atlet akan mengalami rasa nyeri saat melakukan pembebanan yang lama. Tetapi
pada minggu kedua, kemungkinan atllet dapat terbebas dari rasa nyeri sehingga
dapat beralih ke metode lari dengan
kontak tumit. Di minggu ketiga, biasanya atlet sudah tidak merasakan adanya
nyeri pada posterior medial tibia selama pemeriksaan.
Dalam program fisioterapi dapat menangani sejumlah komponen sebgai berikut
• Latihan
peregangan dan penguatan : Hal in
ditujukan untuk meningkatkan daya tahan otot di regio tungkai bawah serta gaya
berjalan dengan meningkatkan kekuatan otot pinggul agar mekanisme lari dapat
meningkat dan mencegah adanya cedera berulang.
• Teknik
manajemen nyeri : Dapat berupa pemberian
modalitas USG, terapi gelombang kejut, serta dapat berupa latihan mobilisasi.
• Latihan
dengan aktivitas berdampak rendah :
Dapat berupa lari di kolanm renang ataupun aktivitas berenang, dan bersepeda.
• Pelatihan
Propioreseptif dan keseimbangan : Ditujukan untuk meningkatkan reaksi otot-otot
kaki untuk beradaptasi dengan permukaan yang berbeda.
Referensi
1.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7210906/
2.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9937638/
3.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9358988/
4.
https://australiansportsphysio.com/physio-for-shin-splints/
5.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9937638/
6.
https://propelphysiotherapy.com/orthopedic/shin-splints-physiotherapy/
Komentar
Posting Komentar