OPTIMALISASI PERAN FISIOTERAPI PADA PREVENTIF INJURY ATLET PARA-SPORT
Oleh : Shofi Kamila Siffa
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Perkembangan dunia olahraga akhir-akhir ini sangat pesat, didukung oleh
fasilitas yang dibutuhkan selama pertandingan, serta peran tenaga medis yang
membantu masa pemulihan akibat cidera maupun keberlangsungan pertandingan.
Adanya perkembangan dan minat dalam olahraga, hal ini memberikan motivasi
pada peningkatan Para-sport diseluruh dunia. Istilah Para-sport merujuk pada atlet
dengan disabilitas yang berpastisipasi dalam olahraga. Para-sport mempunyai
klasifikasi dan ketentuan yang ditetapkan oleh International Paralimpiade
Commite (IPC) (Fagher et al., 2021). Peningkatan performa serta kebutuhan khusus
pada atlet Para-sport menjadikan peran medis sangat dibutuhkan, untuk
memberikan analisis sebagai preventif injury atlet Para-sport.
Pertandingan olahraga untuk Para-sport dikenal dengan Paralimpiade.
Klasifikasi pada paralimpiade meliputi keterbatasan fisik, visual, maupun
intelektual. Sistem klasifikasi yang telah dibuat telah dikembangkan pada setiap
cabang olahraga, hal ini bertujuan untuk membuat kompetisi seadil mungkin.
Seperti hal nya pada para-atlet boccia, hal ini hanya bisa di ikuti oleh penyandang
cerebral palsy dan OI. Klasifikasi pada boccia di bagi lagi menjadi 4 sesuai dengan
tingkat disabilitasnya(Fauzi et al., 2023). World Para-Swimming terdapat 3 kelas
dengan kode yang sudah disepakati. Klasifikasi pertama yaitu; Kelas S untuk gaya
bebas, gaya punggung, dan gaya kupu-kupu, kelas SB untuk gaya dada dan Kelas
SM untuk gaya bebas.sama seperti paralimpiade lainnya klasifikasi sesuai
keterbatasan fungsional juga sudah diatur sangat adil(Salerno et al., 2022).
Klasifikasi pada para-sport memungkinkan memiki variabilitas performa,
pelatihan, pengalaman, maupun jiwa atletik yang mereka miliki, adanya
keterbatasan tidak menjadikan aktivitas atlet para-sport terbatas. Atlet para-sport
yang sedang dalam pelatihan maupun pertandingan juga tidak lepas dari
mengalami cidera, salah satunya pada atlet para-swim, yaitu dengan kondisi cidera
akut 47%, over training (37%) dan kronis (16 %). Prevalensi cidera tersebut juga
terjadi pada kebanyakan atlet para-sport lainnya. Faktor risiko yag terjadi karena
kelelahan, kapasitas Latihan yang tinggi, benturan, asimetris postural. Atlet para
sport mempunyai tingkat cidera yang tinggi, keterbatasan yang dimikili oleh atlet
para-sport akan mempengaruhi keikutsertaan dan performa dalam berolahraga.
Cidera yang dialami bukan hanya karena keterbatasan fungsionalnya namun
juga factor dari pengunaan alat bantu yang akan memicu terjadinya cidera. Seperti
halnya pada atlet dengan kehilangan penglihatan maka propriosepti nya makin
memburuk, lalu pada gangguan neurologi akan berdampak pada spastisitas yag
tidak hanya digumakan pada saat berolahraga, namun juga saat beraktivitas ber
hari-hari. Keterbatasan inilah yang sangat penting untuk dilatih dan dilakukan
pemulihan. Peran fisioterapi dalam mendukung Kesehatan maupun pola gerak atlet
para-sport sangat dibutuhkan untuk preventif injury dan menekan angka cidera pada
atlet para-sport.
Peran fisioterpai pada preventif injury atlet para-sport yaitu dengan
menganalisis setiap kemampuan fungsional pada atlet para-sport, hal ini
dikarenakan setiap para-atlet memiliki tingkat ketergantungan medis serta
gangguan yang dialaminya. Perbedaan anatomi maupun tingkat kemampuan
fungsional akan mengubah biomekanik pada kompensasi gerakan dan teknik yang
akan digunakan, serta mengakomodaikan gangguan tapi juga akan meningkatkan
risiko cidera akibat penggunaan berlebihan. Fisioterapi juga harus mampu
memberikan analisis individual biomekanik pada atlet para-sport dengan
pemahaman yang kuat meliputi faktor cidera yang akan timbul. Fisioterapi
memberikan dosis Latihan sebagai preventif injury yang akan timbul saat kelelahan
maupun overtraining. Ada beberapa hal yang harus diawasi untuk meningkatkan
kemampuan fungsional maupun powerdari atlet para-sport tersebut.
Pengawasan latihan akan di imbangi oleh analisis biomekanik pada atlet
para-sport yaitu meliputi latihan ketahanan, kekuatan, kombinasi latihan,stabilitas
serta agility. Latihan- latihan yang diberikan akan disesuaikan pada performa dan
kemampuan fungsional yang akan menjadi keunggulan dari atlet tersebut. Pada
analisis yang dilakukan juga harus mempertimbangkan dan mampu memahami
dampak cidera yang dialami atlet para-sport, seperti psikososial, fungsional dan
partisipasi mereka pada saat sebelum dan sesudah mengalami disabilitas. Atlet
para-sport akan mengalami perubahan CoG 100% (Central Of Gravity) penyebab
utamanya adalah abnormality force pada area non cidera atau amputasi,
salah satunya pada lower extremity.
Preventif injury training merupakan point yang paling penting dalam
olahraga apapun, terkhusus sport disable. Maka dari itu kolaborasi antara
fisioterapi, pelatih fisik dan pelatih strategi/analisis menjadi hal paling utama dalam
latihan yang spesifik untuk meminimalisir terjadinya cidera, akibat biomekanik
stress dan CoG pada atlet para-sport (Shofal jamil_Fisioterapi INAF).
REFERENSI
Fagher, K., Badenhorst, M., & Vliet, P. Van De. (2021). Sports physiotherapy –
Actions to optimize the health of Para athletes. 16(6), 1376–1378.
https://doi.org/10.26603/001c.29910
Fauzi, S. M., Perdana, S. S., & Muazarroh, S. (2023). Manajemen fisioterapi untuk
meningkatkan performa olahraga boccia pada anak dengan cerebral palsy
diplegia :
sebuah
laporan
https://doi.org/10.15562/ism.v14i2.1768
kasus.
14(2),
635–640.
Salerno, J., Tow, S., Regan, E., & Bendziewicz, S. (2022). Injury and Injury
Prevention in United States Para Swimming : A Mixed-Methods Approach.
17(2), 293–306.
Komentar
Posting Komentar